Monday, 31 December 2012

Mengikuti Sunnah Rasulullah dan Menjahui Bid’ah



ِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Marilah kita senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah l. Yaitu dengan mempelajari dan mengamalkan serta berpegang teguh di atas syariat-Nya. Karena di dalamnya ada cahaya dan petunjuk yang demikian mencukupi untuk membimbing dan mengatur seluruh sisi kehidupan kita. Mulai dari urusan rumah tangga hingga ketatanegaraan. Sehingga selama seseorang itu mengikuti petunjuk dan aturan-Nya pasti dia akan selamat di dunia dan akhirat. Karena Allah l telah berjanji bagi orang yang mengikuti petunjuk-Nya di dalam firman-Nya:
“Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123)
Maka barangsiapa yang tidak merasa cukup dengan petunjuk Allah l sehingga menyelisihinya, pasti dia akan rugi dan celaka. Meskipun orang melihatnya hidup dengan penuh kemewahan dan serba ada. Namun sesungguhnya dia tidak merasakan kelapangan dan ketenangan di dalam jiwanya. Karena Allah l telah mengancam bagi orang-orang yang menyelisihi petunjuk-Nya di dalam firman-Nya:
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 124)
Hadirin rahimakumullah
Seorang muslim yang hakiki tidak akan ridha untuk meninggalkan petunjuk Allah l. Meskipun ditawarkan kepadanya dunia seisinya. Dia akan tetap berpegang teguh di atas syariat-Nya meskipun cobaan dan ujian menimpa dirinya. Karena dia mengetahui bahwa kehidupan yang sesungguhnya bukanlah di dunia dan apa yang dimilikinya berupa kenikmatan dunia baik berupa harta, kedudukan, dan yang semisalnya, pasti akan sirna. Sehingga yang senantiasa diinginkan oleh dirinya adalah meraih kecintaan Allah l dan diampuni seluruh dosanya serta mendapatkan hidayah dan curahan rahmat-Nya. Oleh karena itu, dia berusaha untuk mengikuti jalan Rasulullah n, yaitu dengan menaatinya dan tidak menyelisihinya. Karena itulah satu-satunya jalan yang harus ditempuh agar dirinya dicintai dan dirahmati serta diberi hidayah oleh Yang Maha Kuasa. Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
“Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir’.” (Ali ‘Imran: 31-32)
Maka di dalam ayat tersebut Allah l menjelaskan bahwa menaati Rasul-Nya adalah konsekuensi dan bukti dari cintanya kepada Allah l, sementara menyelisihinya adalah tanda kekufuran dirinya kepada Allah l.
Dan Allah l juga memberitakan di dalam Al-Qur`an bahwa barangsiapa menaati Rasul-Nya akan memperoleh hidayah-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya:
“Dan jika kalian menaatinya, niscaya kalian akan mendapat hidayah/petunjuk.” (An-Nur: 54)
Begitupula Allah k beritakan bahwa taat kepada Rasul adalah sebab yang akan mengantarkan kita untuk mendapatkan rahmat-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya:
“Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kalian diberi rahmat.” (Ali ‘Imran: 132)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Oleh karena itu, seorang muslim akan mengikuti jalan Rasulullah n dan akan meninggalkan seluruh ajaran yang menyimpang dari ajarannya n. Dia tidak akan terburu-buru dalam meyakini dan mengamalkan suatu ajaran dalam beribadah kepada Allah k, baik yang berupa ucapan maupun amalan anggota badan. Akan tetapi dia akan menimbang terlebih dahulu seluruh ucapan dan amalan ibadahnya dengan amalan dan ucapan Rasulullah n. Apabila sesuai maka diterima, namun apabila bertentangan maka dia akan menolak, dari manapun datangnya. Karena beliau n bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengamalkan amalan yang tidak ada syariatnya dari kami maka amalan tersebut ditolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Al-Imam Asy-Syafi’i t mengatakan:
لَقَدْ أَجْمَعَ النَّاسُ عَلَى أَنَّ مَنْ تَبَيَّنَ لَهُ سُنَّةُ رَسُوْلِ اللهِ n لاَ يَجُوْزُ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ
“Para ulama telah sepakat bahwasanya barangsiapa yang telah jelas baginya jalan Rasulullah n, tidak boleh baginya untuk meninggalkannya karena ucapan siapapun.”
Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah bahwa Rasulullah n telah mengingatkan umatnya agar jangan sampai terjatuh pada perbuatan bid’ah, yaitu mengada-adakan amalan ibadah baru yang tidak ada syariatnya. Hal ini sebagaimana tersebut di dalam sabdanya n:
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Hati-hatilah kalian dari terjatuh kepada amalan-amalan ibadah baru yang diada-adakan, karena setiap amalan tersebut adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Ahmad dan yang lainnya, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t)
Bahkan beliau n menyebutkan bahwa perbuatan mengada-adakan amalan ibadah baru yang tidak ada syariatnya adalah sejelek-jelek amalan. Sebagaimana tersebut dalam haditsnya:
وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا
“Dan sejelek-jelek amalan adalah amalan ibadah yang diada-adakan (yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah n dan Al-Khulafa` Ar-Rasyidin).” (HR. Muslim)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Para ulama telah menjelaskan di dalam kitab-kitab mereka tentang maksud dari amalan bid’ah. Di antaranya disebutkan bahwa bid’ah adalah aturan yang diada-adakan dalam beragama yang menandingi syariat dan dimaksudkan dengan mengikuti aturan tersebut untuk beribadah kepada Allah l. Dan bid’ah itu bermacam-macam jenisnya. Ada yang berupa amalan ibadah baru yang sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah n dan Al-Khulafa` Ar-Rasyidin. Seperti mengadakan acara perayaaan dan peringatan hari kelahiran atau hari kematian seseorang. Ataupun dengan mengubah tata cara ibadah yang telah disyariatkan. Seperti berdzikir secara berjamaah dengan dipimpin oleh seorang imam setelah selesai dari shalat berjamaah.
Hadirin rahimakumullah,
Seluruh jenis bid’ah dengan berbagai macamnya adalah sesat, sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi n:
وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Ahmad dan yang lainnya, dishahihkan Al-Albani t)
Begitu pula dikatakan oleh Abdullah ibnu ‘Umar c:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
“Setiap bid’ah adalah sesat meskipun orang-orang menganggapnya baik.”
Maka tidak benar kalau dikatakan ada bid’ah yang baik atau hasanah. Akan tetapi yang ada adalah sunnah yang hasanah, bukan bid’ah hasanah. Yaitu melakukan amal ibadah yang disyariatkan dan kemudian dicontoh serta diikuti oleh yang lainnya. Adapun mendekatkan diri kepada Allah l dengan amal ibadah yang dibuat sendiri atau dibuat oleh gurunya, hal tersebut adalah amalan bid’ah dan tidak ada baiknya sama sekali. Karena seluruh amalan bid’ah adalah keluar dari petunjuk Rasulullah n. Meskipun kadar kesesatannya dan kejelekannya berbeda-beda.
Akhirnya, marilah kita senantiasa mengikuti wasiat Nabi n untuk berpegang teguh di atas jalannya. Begitupula wasiat beliau n untuk berhati-hati terhadap kerusakan yang sangat berbahaya, yaitu bid’ah serta orang-orang yang mengajaknya. Karena hal itu akan menjauhkan kita dari agama yang mulia.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْـمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَـمِيْنَ أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ صِرَاطِهِ الْـمُسْتَقِيْمِ وَنَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ سُبُلِ أَصْحَابِ الْـجَحِيْمِ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، الْـمَلِكُ الْبَرُّ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَلَّغَ اْلبَلاَغَ الْـمُبِيْنَ، وَقَالَ: عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْـخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ تَلَقَّوْا عَنْهُ الدِّيْنَ وَبَلَّغُوْهُ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita berusaha untuk selalu menjaga diri-diri kita dari adzab Allah l dengan bertakwa kepada-Nya. Yaitu dengan senantiasa mengikuti ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya n dan tidak menyelisihinya. Karena Allah l telah mengancam orang-orang yang menyelisihi jalan rasul-Nya dengan ancaman yang keras. Sebagaimana hal ini tersebut di dalam firman-Nya:
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih.” (An-Nur: 50)
Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah bahwa bid’ah adalah bentuk penyelisihan paling besar dari jalan Rasulullah n setelah perbuatan syirik. Hal ini karena perbuatan bid’ah akan memecah-belah kaum muslimin serta menyeret pelakunya pada kerusakan agama dan hatinya. Perbuatan bid’ah akan menjadikan hati pelakunya menjadi benci kepada As-Sunnah. Karena, hati tidak akan menerima Sunnah Rasul jika sudah ditempati oleh bid’ah. Oleh karena itu, kita dapati orang yang melakukan atau bergelut dengan bid’ah serta menghidupkannya adalah orang yang jauh dari Sunnah Nabi n. Setan akan menghiasi amalan bid’ah sehingga akan menjadi sangat mudah bagi orang yang tertipu untuk mengamalkannya meskipun harus mengeluarkan banyak biaya dan menyita sebagian besar waktunya. Dan bid’ah akan menyeret pelakunya menjadi orang yang sombong untuk menerima kebenaran. Hal itu karena setiap pelaku bid’ah akan membanggakan dirinya dan menganggap cara serta amalannya adalah yang paling baik.
Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa termasuk dari amalan bid’ah yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin adalah mengkhususkan pertengahan bulan Sya’ban atau yang dikenal dengan istilah Nishfu Sya’ban dengan shalat malam secara berjamaah.
Al-Imam An-Nawawi t berkata dalam kitabnya Al-Majmu’: “Shalat yang dikenal dengan istilah shalat Ar-Ragha`ib yaitu shalat 12 rakaat yang dilakukan antara Maghrib dan ‘Isya pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab dan shalat pada malam Nishfu Sya’ban sebanyak seratus rakaat, keduanya adalah amalan bid’ah dan mungkar. Janganlah tertipu karena disebutkannya dua jenis shalat ini dalam kitab Qutul Qulub dan Ihya` ‘Ulumuddin. Dan jangan pula tertipu dengan hadits-hadits yang tersebut di dalam dua kitab tadi. Karena sesungguhnya semua itu batil.”
Berkata pula Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz t: “Hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban adalah hadits-hadits yang dha’if. Tidak boleh dijadikan sebagai pegangan. Sementara hadits-hadits yang menyebutkan tentang keutamaan shalat pada malam Nishfu Sya’ban semuanya adalah hadits palsu, sebagaimana telah diingatkan oleh banyak ulama.”
Maka tidak boleh bagi kaum muslimin untuk mengkhususkan serta mengistimewakan pertengahan bulan ini daripada hari-hari lainnya di bulan tersebut. Karena Rasulullah n dan Al-Khulafa` Ar-Rasyidin tidak pernah melakukannya. Begitu pula tidak boleh bagi kaum muslimin untuk mendukung dan membantu pelaksanaannya. Karena hal itu sama saja dengan menghancurkan agama saudaranya. Bukan berarti tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk shalat malam pada hari tersebut. Akan tetapi mengistimewakan hari dan malam tersebut dari hari-hari lainnya di bulan Sya’ban untuk shalat atau ibadah lainnya bukanlah ajaran yang dibawa oleh Rasulullah n.
Akhirnya marilah kita senantiasa berhati-hati dari jalan-jalan yang menyimpang dari jalan Rasulullah n. Karena jalan yang ditempuh oleh Rasulullah n dan orang-orang yang terbaik di umat ini baik dari kalangan sahabat, tabi’in, dan yang mengikuti mereka adalah satu-satunya jalan yang benar.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْـمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْـمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْـمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْـمُسْلِمينَ في كُلِ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ والْـمُسْلِمَاتِ، وَالْـمُؤْمِنِيْنَ وَالْـمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْـمُرْسَلِينَ وَالْـحَمْدُ لِلهِ ربِّ الْعَالَـمِينَ.

Sumber : http://asysyariah.com/

Wednesday, 12 December 2012

Kereta Mayat: Kenapa Hati gelisah??

Kereta Mayat: Kenapa Hati gelisah??: (Versi 2.0: Edit balik entry lama sebab dah ramai orang melayu islam menjadi murtad khabarnya, semoga entry ini membantu...)

Lepas Isyak...

Kereta Mayat: Surrounding authority?

Kereta Mayat: Surrounding authority?: (Aku google perkataan ‘surronding authority’ tapi tak jumpapun orang guna istilah ni, arghh, lantaklah) Manusia di bentuk oleh belief syst...

Kesan Solat Dalam Kehidupan Mukmim


Solat atau sembahyang adalah rukun kedua yang menjadi asas terbinanya Islam. Solat juga merupakan tiang agama dan satu ibadah wajib ke atas setiap umat Islam melakukannya dalam apa jua keadaan selagi akalnya masih waras. Dalam al-Quran terdapat lebih 25 tempat ayat " اَقَامَ " yang merujuk kepada makna perintah mengerjakan atau mendirikan solat dan terdapat lebih 70 kali perkataan    " الصلاة " atau sembahyang diulang dan disebut dalam al-Quran, antaranya Firman Allah SWT:




Yang bermaksud: "Kemudian apabila kamu telah selesai mengerjakan sembahyang, maka hendaklah kamu menyebut dan mengingati Allah semasa kamu berdiri atau duduk, dan semasa kamu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa tenteram (berada dalam keadaan aman) maka dirikanlah sembahyang itu (dengan sempurna sebagaimana biasa). Sesungguhnya sembahyang itu adalah satu ketetapan yang diwajibkan atas orang-orang yang beriman, yang tertentu waktunya."
(Surah an-Nisa' : 103)

Sebagai umat Islam, samada remaja, muda-mudi, dewasa, lelaki mahupun perempuan hendaklah memerhati, memahami dan menghalusi sehalus-halusnya perintah solat ini. Sebab itu, Baginda nabi SAW telah berpesan kepada umat Islam sejak 1400 tahun lalu supai ibu bapa mengajar dan menyuruh anak-anak tentang ibadah sembahyang sejak umur mereka 7 tahun dan pukullah mereka jika enggan sembahyang ketika berumur 10 tahun. Kita wajib berdoa mengharapkan anak-anak dan keturunan kita sentiasa mendirikan sembahyang sesuai dengan Firman Allah:


Maksudnya: "Wahai Tuhan kami! kurniakanlah keampunan kepada ku dan kepada kedua ibu bapa ku serta kepada orang-orang yang beriman, pada masa berlakunya hisab dan pembalasan."
(Surah Ibrahim : 40)

Begitu juga kita hedaklah menyuruh kaum keluarga kita mengerjakan solat seperti Firman Allah dalam surah Toha ayat 132 yang berbunyi:


Maksudnya: "Dan perintahkanlah keluargamu serta umatmu mengerjakan sembahyang, dan hendaklah engkau tekun bersabar menunaikannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, (bahkan) Kamilah yang memberi rezeki kepadamu, dan (ingatlah!) kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa."

Di sini dapat difahami betapa besarnya kepentingan sembahyang kepada orang-orang Islam yang beriman, di antaranya:

1.            Solat dapat meningkatkan seseorang untuk sentiasa mengingati Allah.

Firman Allah SWT:


Yang bermaksud: "Sesungguhnya Akulah Allah, tiada Tuhan melainkan aku, oleh itu, sembahlah akan daku, dan dirikanlah sembahyang untuk mengingati daku."
(Surah Toha ayat : 14)

Berdasarkan maksud ayat tersebut sembahyang adalah jalan bagaimana untuk kita sentiasa mengingati Allah SWT. Sekaligus sembahyang juga merupakan tanda pengabdian dan syukur seorang hamba kepada Allah SWT. Atas segala nikmat dan rahmat yang Allah kurniakan kepada kita.

2.            Solat dapat menghapus dosa.

Kita umat Islam tidak terlepas dari melakukan dosa dan solat lima kali sehari semalam dapat menghapuskan dosa yang dilakukan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis:

"عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اَلصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تَغْشِ الْكَبَائِرَ."

Bermaksud: "Dari Abi Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Sembahyang lima waktu dan sembahyang Jumaat hingga Jumaat berikutnya adalah penebus dosa antara jarak waktu sembahyang-sembahyang itu, selama dijauhinya dosa-dosa besar."
(Hadis riwayat Muslim)

3.            Solat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Solat yang dikerjakan dengan khusyuk dan menepati segala rukun-rukunnya boleh mencegah orang yang melakukannya dari melakukan maksiat dan kemungkaran. Firman Allah SWT:



Yang bermaksud: "…. Sesungguhnya sembahyang itu mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingati Allah adalah lebih besar (faedahnya dan kesannya), dan (ingatlah) Allah mengetahui akan apa yang kamu kerjakan."
(Surah al-Ankabut : 45)




4.            Solat dapat memberi barakah hidup dan berbahagia kehidupan.

Kehidupan orang yang memelihara solat jauh berbeda dengan orang yang meninggalkannya. Ini Jelas kita melihat orang yang memelihara solat kehidupannya dipenuhi dengan keberkatan dan kebahagiaan. Sebagaimana Firman Allah yang berbunyi:


Maksudnya: "Sesungguhnya berbahagia \ berjayalah orang-orang beriman. (Iaitu) mereka yang khusyuk dalam sembahyangnya."
(Surah al-Mukminun : 1-2)

Perlu diingatkan, bahawa solat adalah ibadah yang diterima oleh Baginda nabi SAW secara langsung daripada Allah SWT, ketika nabi SAW mengadap Allah SWT di “Sidratul Muntaha” dalam peristiwa Isra’ Mikraj adalah berbeza dengan ibadah lain seperti ibadah puasa, zakat, haji dan lain-lain yang diterima melalui wahyu dengan perantaraan malaikat Jibril AS pembawa wahyu. Ini adalah satu kenyataan bahawa ibadah sembahyang itu terlalu istimewa di sisi Allah SWT.

Dari segi perubatan dan kesihatan solat yang khusyuk boleh mendamaikan jiwa, mengawal tekanan perasaan dan menjadikan tubuh badan menjadi sihat serta cergas. Begitu juga, Rasulullah SAW ketika berhadapan masalah, akan memperbanyakkan solat kerana solat bagi baginda adalah amalan penyejuk hati.
Seterusnya golongan yang memperkecilkan solat merupakan golongan yang sesat. Dalam surah Maryam ayat 59, Allah berfirman :


Maksudnya: "Maka datanglah selepas mereka pengganti (yang keji) yang mensia-siakan solat mereka serta mengikut hawa nafsu maka kelak mereka akan menemui kesesatan."

Abdullah bin Abbas berkata maksud mensia-siakan solat bukanlah meninggalkan solat sama sekali tetapi melewatkan dari waktunya. Imam Said Ibni al-Musayyib berpendapat iaitu mereka melaksanakan solat Zuhur dalam waktu Asar, solat Asar di dalam waktu Maghrib, solat Maghrib di dalam waktu Isyak dan solat Isyak ditangguhkan sehingga masuk waktu subuh serta solat subuh dilaksanakan selepas matahari terbit. Sesiapa yang mati dalam keadaan ini tanpa bertaubat dia akan dihumbankan ke dalam sebuah lembah yang bernama "Ghaiy" di dalam neraka dan diberikan makanan yang amat jijik. Hal ini disebutkan oleh Said Hawa dalam kitab "الأَسَاسُ فِى التَفْسِيْرِ". Jika bersolat fardhu di luar waktu sudah begini hukumnya, bayangkanlah azab yang bakal menimpa mereka yang tidak bersolat fardhu sama sekali.

Justeru melaksanakan solat fardhu dalam waktu yang ditetapkan merupakan sebahagian daripada disiplin Islam yang wajib dilaksanakan. Sabda nabi SAW:

"عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو الشِّيْبَانِيْ قَالَ، قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: اَلصَّلاَةُ عَلَى مِيْقَاتِهَا. قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ. قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ اَلْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ."

Maksudnya: "Dari Abi Amr asy-Syibani katanya, Abdullah bin Mas'ud pernah bertanya kepada nabi SAW apakah amalan yang paling Allah sukai?. Nabi menjawab: Solat tepat pada waktunya. Ia bertanya lagi kemudian apa? Baginda menjawab: Melakukan kebaikan kepada kedua ibu bapa. Ia bertanya lagi kemudian apa? Baginda menjawab: Melakukan jihad pada Agama Allah SWT."

 (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)








Maksudnya: "Sesungguhnya kami telah mengurniakan kepadamu (wahai Muhammad) kebaikan-kebaikan yang banyak (di dunia dan akhirat). Oleh itu, kerjakanlah sembahyang kerana Tuhanmu semata-mata, dan sembelihlah korban (sebagai bersyukur). Sesungguhnya orang yang bencikan engkau, dialah yang terputus (dari mendapat sebarang perkara yang diingininya)."

(Surah al-Kausar ayat : 1-3)

Sumber :http://www.islam.gov.my